Hebatnya Keterampilan Menguasai Monetizing bagi Pengembangan Bisnis dan Rahasia Sukses para Miliarder yang Belum Terungkap

Tentu Anda setuju kalau suatu bisnis dapat dikatakan sukses adalah ketika pemasukan dan keuntungan bersih yang dihasilnya bernilai tinggi. Untuk mendapatkannya, strategi marketing tentu adalah hal penting.

Akan tetapi, ketika semua kompetitor menggunakan strategi marketing yang sama, maka jalan satu-satunya untuk memenangkan persaingan dan menguasai pasar adalah dengan mengandalkan keterampilan monetizing.

Apa yang dimaksud dengan monetizing?

Monetizing berasal dari kata Monetization yang berarti menjadikan sesuatu lebih bernilai. Secara lebih kompleks, monetizing dapat diartkan pula sebagai sebuah ilmu atau keterampilan yang dilakukan dengan cerdik untuk mengubah suatu model bisnis agar dapat memberikan pendapatan yang lebih maksimal dengan jalan menjungkirbalikkan arus uang normal.

Sebetulnya, monetizing ini bukanlah hal baru. Bahkan sejak di zaman perdagangan unta, keterampilan monetizing ini sudah dipraktekkan oleh Abdurrahman Bin Auf yang adalah sorang ahli monetizing di dataran arab yang begitu lihai.

Beliau mengadakan sistem bagi hasil bagi para pedagang di Pasar Madinah yang sebelumnya sangat dirugikan oleh harga sewa kios yang begitu mahal oleh pihak pengelola pasar. Hasilnya, barang dagangan bisa diual lebih mudah dan tentu saja unta ini semakin laku dan keuntungan yang diperoleh juga lebih besar.

Monetizing ini pun juga berkembang di zaman digital. Contoh praktik monetizing yang menarik adalah yang dilakukan oleh Practice Fusion sejak November 2007. Ketika itu, perusahaan baru di San Francisco tersebut menawarkan software pengatur catatan medis elektronik dan manajemen praktik secara gratis.

Tentu saja dengan cepat, ribuan dokter telah mendaftarkan diri untuk mendapatkan softrar praktek medis yang bila dijual, harganya bisa mencapai 50.000 dollar. Pertanyaannya, bagaimana mungkin perusahaan Software tersebut bisa memperoleh keuntungan bila membagikan sistem catatan elektroniknya secara gratis?

Sebetulnya, Practice Fusion menawarkan model freemium + iklan. Ada dua versi software yang ditawarkannya. Software versi gratis ditawarkan dengan isi iklan, semacam google adsense. Sedangkan versi bebas iklan dihargai sewa 100 dolar per bulan.

Dari 2000 dokter yang mendaftar, ternyata hanya 10 persen saja yang mau membayar, yang artinya pendapatannya kurang dari 20.000 dollar. Tapi, inilah keterampilan monetizing yang menarik karena penghasilan sebenarnya dari Practice Fusion didapat dari tempat lain secara kreatif.

Tak hanya dari iklan, tapi karena Practice Fusion telah sukses menyebarkan software datanya ke ribuan dokter, artinya ia mampu menciptakan database pasien yang semakin berkembang. Perusaahaan ini pun memiliki akses data yang sangat banyak. Akses data inilah yang dapat ia jual karena sangat dibutuhkan oleh asosiasi medis dalam melakukan riset tentang kondisi spesifik pasien.

Bukankah ini adalah ide yang hebat? Catatan kesehatan yang selalu diperlukan ini bisa menghasilkan lebih banyak keuntungan. Bayangkan saja, data kesehatan anonim dari satu orang pasien saja dapat menghasilkan hingga 500 dolar.

Padahal, seorang dokter biasanya mempunyai sekitar 250 pasien, sehingga 2000 klien Practice Fusion yang pertama dapat menghasilkan hingga 500.000 catatan medis. Bahkan, setiap catatan medis ini pun dapat dijual berulang kali ke berbagai studi yang dilakukan oleh berbagai institusi.

Jika dihitung, penghasilan Practice Fusion justru lebih besar ketimbang jika ia menjual software yang sama dengan harga 50.000 dollar. Bahkan, monetizing inipun tak hanya menghasilkan keuntungan untuk satu pihak saja, tapi juga untuk banyak pihak sekaligus.

Memiliki ilmu monetizing dan terampil dalam menggunakannya memang akan menjadi suatu keunggulan tersendiri. Dalam bisnis apa pun, tentu saja Anda akan berhasil karena Anda akan diserbu oleh target pasar dan pada akhirnya, Anda bisa menjadi penguasa pasar.

Di Asia, tercatat ada lima penguasaha sukses yang sering dianggap sebagai masternya monetizing digital. Mereka adalah Ferry Tenka (Indonesia), Ralph Wunsch (Filipina), Mike Tran (Vietnam), Mrigank Tripathi (India), John Fearon (Singapura).